Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Februari 2009

Pemuda dan Hari Jum'at

Di antara hal yang sangat memprihatinkan yaitu adanya sebuah kenyataan yang kita saksikan dari segolongan pemuda yang tidak memiliki kepedulian terhadap waktu, khususnya waktu-waktu yang utama. Padahal mereka mengetahui dengan baik bahwasanya hidup itu pendek meskipun panjang. Kesenangan itu akan sirna meskipun abadi. Sehat akan digantikan oleh sakit, dan masa muda akan digantikan masa tua.

Di antara waktu-waktu utama yang sering diremehkan oleh sebagian pemuda adalah hari Jum'at yang Allah subhanahu wata’ala telah menunjukkan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya dan membiarkan umat-umat terdahulu tanpa petunjuk untuk menggapainya. Berikut ini beberapa ide terpilih yang dapat ditawarkan kepada para pemuda atau remaja untuk mengisi hari Jum'at:

1). Hendaknya seorang pemuda menghindarkan dirinya dari begadang sampai larut malam. Karena begadang akan menghalangi dari bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat Jum'at dengan segera. Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencela kami karena begadang setelah Isya". (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

2). Berdiam diri di Masjid setelah menunaikan shalat Fajar untuk berdzikir dan membaca al-Qur'an.

3). Beristirahat sebentar kemudian menyantap sarapan pagi, mandi, bersiwak, mencukur kumis dan memakai pakaian yang bagus/paling bersih dan memakai minyak wangi. Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum'at, lalu menyucikan diri semampunya, memakai minyak rambut atau mengoleskan minyak wangi yang ada di rumahnya, kemudian ia pergi keluar rumahnya menuju masjid, dan tidak memisahkan antara dua orang (yang datang lebih awal) untuk selanjutnya ia mengerjakan shalat sebagaimana yang ditentukan kepadanya lalu memperhatikan khutbah pada saat khatib sedang berkhutbah, melainkan diampuni dosa-dosa yang dilakukan hari itu dan Jum'at yang lain". (HR. al-Bukhari).

Telah berkata Muhammad ibn Ibrahim At-Taimi rahimahullah, "Barangsiapa memotong kukunya pada hari Jum'at, memotong kumisnya, dan menghiasi diri dengan sunnah, maka ia telah menyempurnakan Jum'at." (Abdur Razzaq di dalam karangannya). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu tidaklah berangkat menuju shalat Jum'at, melainkan ia memakai minyak rambut dan minyak wangi. Berkata Abu Sa'id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, "Tiga perkara yang menjadi kewajian seorang muslim pada hari Jum'at: Mandi, bersiwak, dan memakai minyak wangi jika ia mendapatkannya."

4). Bersegera menghadiri shalat Jum'at dengan berjalan kaki, tidak menaiki kendaraan untuk meraih pahala yang besar dalam kesegeraannya. Sebagaimana disebutkan dalam shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, "Barangsiapa mandi pada hari Jum'at seperti mandi junub, lalu dia berangkat (menuju masjid), maka seakan-akan dia berkurban unta. Barangsiapa berangkat pada saat ke dua, maka seakan-akan dia berkurban sapi. Barangsiapa berangkat pada saat ke tiga, maka seakan-akan dia berkurban kambing. Barangsiapa berangkat pada saat yang ke empat, maka seakan-akan ia berkurban ayam. Barangsiapa berangkat pada saat yang ke lima, maka seakan-akan dia berkurban telor. Sedangkan jika imam telah datang, maka para malaikat berdatangan untuk mendengarkan peringatan (nasihat) ".

Ats-Tsaqofi radhiyallahu ‘anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mandi hari Jum'at dan membersihkan diri, lalu bersegera dan bergegas, berjalan kaki dan tidak menaiki kendaraan, mendekati posisi imam kemudian mendengarkan dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya setiap langkah amalan satu tahun, termasuk pahala puasa dan qiyamullail yang ada pada tahun itu." (HR. Ahmad).

Sedangkan petunjuk para sahabat Radhiyallahu 'Anhum, maka Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, "Kami bersegera menuju Jum'at dan beristirahat setelah Jum'at.” (HR. al-Bukhari).

5). Hendaknya seorang pemuda memanfaatkan waktu duduknya di Masjid dengan amalan ibadah yang cocok dengan hati dan kondisinya. Adakalanya dengan memperbanyak shalat. Disebutkan dalam shahih Muslim dari hadits Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Saya bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka saya membawakan air wudhu dan kebutuhannya. Maka beliau berkata kepadaku, "Mintalah". Maka saya berkata, "Saya meminta agar bisa menemanimu di Surga". Beliau berkata, "Ada yang lain selain itu". Maka aku berkata, "Cukup itu saja". Beliau berkata, "Bantulah aku agar bisa membantumu dengan memperbanyak sujud".

Harapan kita semua adalah tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di surga. Harapan ini (tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di surga) tidak akan terealisasi setelah rahmat dari Allah subhanahu wata’ala, kecuali dengan mengerjakan sebab-sebabnya. Dan di antara sebab-sebab tersebut adalah memperbanyak shalat.

Nafi' berkata, "Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu senantiasa shalat pada hari Jum'at. Maka ketika mendekati waktu keluarnya imam, ia duduk sebelum keluarnya imam.” (Abdurrozzak 3/210).

Dan di antara sebab-sebab yang lainnya yaitu membaca surat Al-Kahfi. Terdapat banyak nash yang menjelaskan keutamaan membacanya. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam sunannya dari Abu Said Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu dia bekata, "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum'at, maka dia akan diterangi oleh cahaya dalam jarak antara dia dengan Baitul 'Atiq". (Sanadnya memiliki hukum marfu' sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani).

Kemudian selayaknya ia berusaha menghafal ayat-ayat al-Qur'an yang mulia agar hati dan dadanya terisi oleh ayat-ayat al-Qur'an. Karena sebaik-baik yang mengisi hati adalah Kitabullah. Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Sesungguhnya seseorang yang di dalam rongga dadanya tidak ada sesuatu dari al-Qur'an seperti rumah yang runtuh". (Berkata At-Tirmidzi: Hadits ini hasan shahih).

6). Jika khatib telah masuk untuk menyampaikan khutbah dan menunaikan shalat, hendaknya ia diam untuk mendengarkan khutbah yang disampaikannya agar dapat mengambil faidah dari khutbah tersebut. hendaknya ia berkonsentrasi mendengarkan khutbah, seolah-olah nanti ia akan ditanya tentang materi khutbah atau ia diminta untuk berbicara tentang materi yang disampaikan Khotib. Maka dengan cara ini akal dan pikirannya akan terpusat lebih banyak pada pembicaraan sang Khotib. Cobalah cara ini, engkau akan mendapatkan kebenaran dari apa yang aku ucapkan.

7). Seusai shalat Jum'at tunaikanlah shalat sunnah Jumat. Jika di masjid shalatlah empat rakaat. Sebagaimana yang telah diriwayatkan At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Barangsiapa di antara kalian shalat setelah Jum'at, maka shalatlah empat raka’at setelahnya". Dan jika engkau lakukan di rumah maka shalatlah dua raka'at. Sebagaimana telah ditetapkan dalam shahihain, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dua raka’at setelah Jum'at di rumahnya. Setelah itu santaplah makananmu dan beristirahatlah. Sebagaimana yang telah diriwayatkan Imam al-Bukhari dari hadits Sahl bin Sa'd radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Kami tidak beristirahat dan makan siang, kecuali setelah shalat Jum'at."

8). Setelah Ashar mungkin kamu bisa mengisinya dengan mengunjungi kerabat atau menengok orang sakit atau bisa juga dengan mengulangi pelajaran-pelajaranmu.

9). Mendekti waktu Maghrib selayaknya seorang pemuda berjalan menuju masjid untuk berdoa dan memanfaatkan waktu yang mustajab. Sebagaimana yang terdapat dalam shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut hari Jum'at, lalu dia berkata, "Di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Dia akan memberikan kepadanya.” Dan beliau mengisyaratkan (pendeknya waktu tersebut) dengan tangannya."

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan waktu ini dengan pendapat-pendapat yang banyak. Tetapi sepertinya pendapat yang pa ling kuat adalah akhir waktu Ashar. Maka selayaknya seorang pemuda muslim yang mengetahui kefakiran dan kebutuhannya kepada Rabb-nya menggunakan kesempatan ini dengan memohon hidayah dan keteguhan di atas agamanya untuk dirinya sendiri dan berdoa untuk saudara-saudaranya kaum muslimin di negara-negara bagian timur bumi dan bagian baratnya.

10). Setelah shalat Maghrib, hendaknya ia membaca wirid sore hari kemudian mengerjakan shalat sunnah Maghrib.

11). Setelah Maghrib ia bisa berkumpul bersama keluarganya untuk bercengkrama dengan mereka dan memberi manfaat dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka atau bisa juga memanfaatkan waktu itu untuk mengulangi pelajarannya sehari-hari.

Seorang pemuda hendaknya mengingat bahwasanya pengulangan pelajaran yang ia lakukan adalah dalam rangka meraih ilmu. Dan menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat agung yang seorang hamba memperoleh pahala jika melaksanakannya. Hadits riwayat At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan Abu Daud, menyebutkan bahwa seseorang datang kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu saat itu ia sedang berada di Damaskus, lalu ia bertanya, "Wahai Abu Darda! Sesunggunya aku mendatangimu dari kota Madinah Rasul untuk mengklarifikasi sebuah hadits yang engkau riwayatkan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam". Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, "Apa yang menyebabkan anda datang ke sini, apakah karena suatu perniagaan? Ia menjawab,” Tidak". Ia bertanya lagi, "Apakah tidak ada hal lain yang anda cari? Orang itu menjawab, "Tidak". Maka Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa berjalan (keluar) untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga, dan malaikat akan meletakkan sayapnya sebagai keridloan terhadap penuntut ilmu. Sesungguhnya para penghuni langit dan bumi sampai makhluk yang ada di laut akan memohonkan ampunan baginya dan keutamaan seorang penutut ilmu daripada seorang yang beribadah adalah seperti keutamaan bulan dari bintang-bintang yang lainnya. Para ulama adalah pewaris nabi-nabi dan sesunggunya nabi-nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (ilmu) sesungguhnya ia telah mengambil keuntungan yang besar"

12). Setelah menunaikan shalat Isya dan menyantap makan malam, jika kamu ingin membaca kitab ilmu yang cocok bagimu, maka ini adalah sebuah kebaikan. Jika engkau malas/enggan melakukan yang demikian itu maka shalat witirlah sebelum engkau tidur untuk mengakhiri harimu dengan sesuatu yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala. Jangan lupa dzikir-dzikir menjelang tidur dan etika-etikanya. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga dan memeliharamu. Shalawat dan salam semoga tercurah pada nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan sahabat-sahabatnya. (Zainal Abidin)

Maraji': "Kai Yastafiidusy Syaab Min Yaumil Jumu'ah, Syaikh Muhammad Abdullah Al-Habdan"

Akhlaq Rasulullah

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai keberanian yang mengagumkan dan tiada tandingannya dalam membela agama dan menegakkan kalimatullah Ta’ala. Beliau mempergunakan nikmat-nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang dicurahkan atas beliau pada tempat yang semestinya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah mengungkapkan hal itu dalam sebuah hadits, yang artinya: “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita.” (HR: Muslim)


Di antara bukti keberanian beliau adalah kegigihan beliau dalam mendakwahkan agama Islam seorang diri menghadapi kaum kafir Quraisy dan pemuka-pemuka-nya. Demikian juga keteguhan beliau di atas keyakinan tersebut hingga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menurunkan pertolongan-Nya. Beliau tidak pernah mengeluh atau berkata: “Tidak ada yang sudi menyertaiku, sedangkan orang-orang semuanya memusuhiku.” Akan tetapi beliau bersandar serta bertawakkal kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan tetap meneruskan perjuangan dakwah beliau.

Beliau adalah seorang pemberani dan sangat teguh dalam memegang dan melaksanakan pendirian. Ketika orang-orang lari bercerai berai, beliau tetap teguh bagaikan karang.

Beliau mengasingkan diri untuk beribadah di gua Hira’ selama beberapa tahun. Kala itu beliau belum merasakan gangguan dan orang-orang Quraisy pun belum memerangi beliau. Kaum kafir itu tidak menembakkan sebatang anak panah pun dari busurnya kecuali setelah beliau menyebarkan aqidah tauhid dan memerintahkan untuk memurnikan ibadah mereka kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata. Beliau sangat mengherankan ucapan kaum kafir sebagaimana yang difirmankan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Alloh”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (QS: Yunus: 31)

Sementara itu mereka menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala firmankan, yang artinya: “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS: Az-Zumar: 3)

Padahal mereka juga meyakini tauhid Rububiyah, sebagaimana yang diungkapkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?” mereka akan menjawab: “Alloh”.

Wahai saudaraku, lihatlah praktek-praktek syirik yang bertebaran di seantero negeri-negeri kaum muslimin, seperti memohon kepada orang yang sudah mati, bertawassul dengan perantaraan mereka, bernadzar karena mereka, takut serta mengharap kepada mereka. Sampai-sampai terputus hubungan antara mereka dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala disebabkan kemusyrikan yang mereka lakukan. Mereka telah menempatkan orang-orang yang sudah mati setara dengan kedudukan Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (se-suatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS: Al-Maidah: 72)

Sekarang kita beranjak dari rumah beliau menuju gunung yang berada di sebelah utara. Itulah gunung Uhud, disitulah terjadi peristiwa besar yang menunjukkan keperkasaan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan keteguhan serta kesabaran beliau atas luka yang diderita pada peperangan tersebut. Pada waktu itu wajah beliau yang mulia terluka dan beberapa gigi beliau patah serta kepala beliau terkoyak.

Sahal bin Sa’ad menceritakan kepada kita tentang luka yang diderita beliau . Ia berkata: “Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, aku benar-benar mengetahui siapakah yang mencuci luka Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah yang menyiramkan airnya dan dengan apa luka itu diobati.” Ia melanjutkan: “Fathimah radhiyallahu ‘anha putri beliaulah yang mencuci luka tersebut, sementara Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu menyiramkan airnya dengan perisai. Namun ketika Fathimah radhiyallahu ‘anha melihat siraman air tersebut hanya menambah deras darah yang mengucur dari luka beliau, ia segera mengambil secarik tikar lalu membakarnya kemudian membungkus luka tersebut hingga darah berhenti mengucur. Pada peristiwa itu gigi beliau patah, wajah beliau terluka dan kepala beliau terkoyak lebar.” (HR: Al-Bukhari)

Al-Abbas bin Abdul Muththalib radhiallaahu anhu menceritakan kepahlawanan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peperangan Hunain. Ia berkata: “Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam justru memacu bighalnya ke arah pasukan kaum kafir, sementara aku terus memegang tali kekang bighal tersebut supaya tidak melaju dengan cepat. Saat itu beliau berkata: “Aku adalah seorang nabi bukanlah pendusta. Aku adalah cucu Abdul Muththalib.” (HR: Muslim)

Sementara itu, penunggang kuda yang gagah berani, yang sudah masyhur dan terkenal dengan kisah-kisah kepahlawanannya, yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu menceritakan keberanian Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut: “Apabila dua pasukan sudah saling bertemu dan peperangan sudah demikian sengit, kamipun berlindung di belakang Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada seorangpun yang paling dekat kepada musuh daripada beliau.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah , silakan lihat di dalam Shahih Muslim III / no.1401)

Kesabaran Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyebarkan dakwah pantas dijadikan contoh dan teladan yang baik. Hingga akhirnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala menegakkan pilar-pilar Islam dan melebarkan sayapnya di segenap pelosok jazirah Arab, negeri Syam dan negeri-negeri di seberang sungai Tigris. Hingga tidak tersisa satu rumahpun kecuali telah dimasuki cahaya Islam.

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena membela agama Alloh . Dan tidak ada seorangpun yang mendapat teror seperti itu. aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena menegakkan agama Alloh . Dan tidak seorangpun yang mendapat gangguan seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan Bilal tidak mempunyai sepotong makanan pun yang layak untuk dimakan manusia kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk menutupi ketiak Bilal.” (HR: At-Tirmidzi dan Ahmad)

Walaupun harta dan ghanimah serta perbenda-haraan dunia dari kemenangan yang diberikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau terus mengalir, namun Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan sesuatupun kepada umatnya, tidak dinar maupun dirham, beliau hanya mewariskan ilmu. Itulah warisan nubuwat, barangsiapa yang ingin mengambilnya, maka silakan maju untuk mengambilnya dan selamat berbahagia menerima warisan yang agung itu.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan dinar, tidak pula dirham, tidak meninggalkan kambing, tidak pula unta. Beliau tidak mewasiatkan harta apapun.” (HR: Muslim)

(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)

Sabtu, 31 Januari 2009

Shalahuddin Al Ayyubi (532 - 589 H)

Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub dilahirkan di Takrit Irak pada tahun 532 Hijrah /1138 Masihi dan wafat pada tahun 589 H/1193 M di Damsyik. Beliau adalah pengasas Daulat Al-Ayyubiyah dan bergelar Sultan Shalahuddin. Seorang pahlawan Islam yang paling gagah berani dalam perang Salib dan berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan kaum Salib Kristian.


Hasutan Sang Paderi
Jerussalem merupakan kota Suci bagi ketiga-tiga agama samawi yakni Islam, Yahudi dan Kristian. Di dalam kota inilah letaknya Masjid Al-Aqsa yang dibangun oleh Nabi Sulaiman dan menjadi Kiblat pertama umat Islam sebelum beralih ke Baitullah di Makkah. Ketika Nabi Muhammad Isra’, singgah dan solat di masjid ini sebelum Mi’raj ke langit. Nabi Isa as. juga dilahirkan di Baitullaham berdekatan kota Jerussalam ini.


Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M) Jerussalam dapat direbut oleh kaum Muslimin dalam suatu penyerahan kuasa secara damai. Khalifah Umar sendiri datang ke Jerussalem untuk menerima penyerahan kota Suci itu atas desakan dan persetujuan Uskup Agung Sophronius.

Berabad abad lamanya kota itu berada di bawah pentadbiran Islam, tapi penduduknya bebas memeluk agama dan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing tanpa ada gangguan. Orang-orang Kristian dari seluruh dunia juga bebas datang untuk mengerjakan haji di kota Suci itu dan mengerjakan upacara keagamaannya. Orang-orang Kristian dari Eropah datang mengerjakan haji dalam jumlah rombongan yang besar dengan membawa obor dan pedang seperti tentera. Sebahagian dari mereka mempermainkan pedang dengan dikelilingi pasukan gendang dan seruling dan diiringkan pula oleh pasukan bersenjata lengkap.

Sebelum Jerussalem ditadbir Kerajaan Seljuk pada tahun 1070, upacara seperti itu dibiarkan saja oleh umat Islam, kerana dasar toleransi agama. Akan tetapi apabila Kerajaan Seljuk memerintah, upacara seperti itu tidak dibernarkan, dengan alasan keselamatan. Mungkin kerana upacara tersebut semakin berbahaya. Lebih-lebih lagi kumpulan-kumpulan yang mengambil bahagian dalam upacara itu sering menyebabkan pergaduhan dan huruhara. Disebutkan bahawa pada tahun 1064 ketua Uskup memimpin pasukan seramai 7000 orang jemaah haji yang terdiri dari kumpulan Baron-baron dan para pahlawan telah menyerang orang-orang Arab dan orang-orang Turki.

Itulah yang membimbangkan Kerajaan Seljuk. Jadi larangan itu demi keselamatan Jemaah haji Kristian itu sendiri. Malangnya, tindakan Seljuk itu menjadi salah anggapan oleh orang-orang Eropah. Ketua-ketua agama mereka telah berkempin bahawa kebebasan agamanya telah dicabuli oleh orang-orang Islam dan menyeru agar Tanah Suci itu dibebaskan dari genggaman umat Islam.

Patriach Ermite adalah paderi yang paling lantang dan bertungkus lumus mengapi-apikan kemarahan umat Kristian. Dia asalnya seorang tentera, tapi kemudian menjadi paderi, berwatak kepala angin dan cepat marah. Dalam usahanya untuk menarik simpati umat Kristian, Ermite telah berkeliling Eropah dengan mengenderai seekor kaldai sambil memikul kayu Salib besar, berkaki ayam dan berpakaian compang camping. Dia telah berpidato di hadapan orang ramai sama ada di dalam gereja, di jalan-jalan raya atau di pasar-pasar. Dia menceritakan sama ada benar atau bohong kisah kunjungannya ke Baitul Maqdis.

Katanya, dia melihat pencerobohan kesucian ke atas kubur Nabi Isa oleh Kerajaan Turki Seljuk. Diceritakan bahawa jemaah haji Kristian telah dihina, dizalimi dan dinista oleh orang-orang Islam di Jerussalem. Serentak dengan itu, dia menggalakkan orang ramai agar bangkit menyertai perang untuk membebaskan Jerussalem dari tangan orang Islam. Hasutan Ermite berhasil dengan menggalakkan. Paus Urbanus II mengumumkan ampunan seluruh dosa bagi yang bersedia dengan suka rela mengikuti Perang Suci itu, sekalipun sebelumnya dia merupakan seorang perompak, pembunuh, pencuri dan sebagainya. Maka keluarlah ribuan umat Kristian untuk mengikuti perang dengan memikul senjata untuk menyertai perang Suci. Mereka yang ingin mengikuti perang ini diperintahkan agar meletakkan tanda Salib di badannya, oleh kerana itulah perang ini disebut Perang Salib.

Paus Urbanus menetapkan tarikh 15 Ogos 1095 bagi pemberangkatan tentera Salib menuju Timur Tengah, tapi kalangan awam sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi setelah dijanjikan dengan berbagai kebebasan, kemewahan dan habuan. Mereka mendesak Paderi Patriach Ermite agar berangkat memimpin mereka. Maka Ermite pun berangkat dengan 60,000 orang pasukan, kemudian disusul oleh kaum tani dari Jerman seramai 20.000, datang lagi 200,000 orang menjadikan jumlah keseluruhannya 300,000 orang lelaki dan perempuan. Sepanjang perjalanan, mereka di izinkan merompak, memperkosa, berzina dan mabuk-mabuk. Setiap penduduk negeri yang dilaluinya, selalu mengalu-alukan dan memberikan bantuan seperlunya.

Akan tetapi sesampainya di Hongaria dan Bulgaria, sambutan sangat dingin, menyebabkan pasukan Salib yang sudah kekurangan makanan ini marah dan merampas harta benda penduduk. Penduduk di dua negeri ini tidak tinggal diam. Walau pun mereka sama-sama beragama Kristian, mereka tidak senang dan bertindak balas. Terjadilah pertempuran sengit dan pembunuhan yang mengerikan. Dari 300,000 orang pasukan Salib itu hanya 7000 sahaja yang selamat sampai di Semenanjung Thracia di bawah pimpinan sang Rahib.

Apabila pasukan Salib itu telah mendarat di pantai Asia kecil, pasukan kaum Muslimin yang di pimpin oleh Sultan Kalij Arselan telah menyambutnya dengan hayunan pedang. Maka terjadilah pertempuran sengit antara kaum Salib dengan pasukan Islam yang berakhir dengan hancur binasanya seluruh pasukan Salib itu.

Kaum Salib Mengganas

Setelah kaum Salib yang dipimpin oleh para Rahib yang tidak tahu strategi perang itu musnah sama sekali, muncullah pasukan Salib yang dipimpin oleh anak-anak Raja Godfrey dari Lorraine Perancis, Bohemund dari Normandy dan Raymond dari Toulouse. Mereka berkumpul di Konstantinopel dengan kekuatan 150,000 askar, kemudian menyeberang selat Bosfur dan melanggar wliayah Islam bagaikan air bah. Pasukan kaum Muslimin yang hanya berkekuatan 50,000 orang bertahan mati-matian di bawah pimpinan Sultan Kalij Arselan.

Satu persatu kota dan Benteng kaum Muslimin jatuh ke tangan kaum Salib, memaksa Kalij Arselan berundur dari satu benteng ke benteng yang lain sambil menyusun kekuatan dan taktik baru. Bala bantuan kaum Salib datang mencurah-curah dari negara-negara Eropah. Sedangkan Kalij Arselan tidak dapat mengharapkan bantuan dari wilayah-wilayah Islam yang lain, kerana mereka sibuk dengan kemelut dalaman masing-masing.

Setelah berlaku pertempuran sekian lama, akhirnya kaum Salib dapat mara dan mengepung Baitul Maqdis, tapi penduduk kota Suci itu tidak mahu menyerah kalah begitu saja. Mereka telah berjuang dengan jiwa raga mempertahankan kota Suci itu selama satu bulan. Akhirnya pada 15 Julai 1099, Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan Salib, tercapailah cita-cita mereka.

Berlakulah keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Kaum kafir Kristian itu telah menyembelih penduduk awam Islam lelaki, perempuan dan kanak-kanak dengan sangat ganasnya. Mereka juga membantai orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristian yang enggan bergabung dengan kaum Salib. Keganasan kaum Salib Kristian yang sangat melampau itu telah dikutuk dan diperkatakan oleh para saksi dan penulis sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan bangsa.

Seorang ahli sejarah Perancis, Michaud berkata: “Pada saat penaklukan Jerussalem oleh orang Kristian tahun 1099, orang-orang Islam dibantai di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Jerussalem tidak punya tempat lagi bagi orang-orang yang kalah itu. Beberapa orang cuba mengelak dari kematian dengan cara menghendap-hendap dari benteng, yang lain berkerumun di istana dan berbagai menara untuk mencari perlindungan terutama di masjid-masjid. Namun mereka tetap tidak dapat menyembunyikan diri dari pengejaran orang-orang Kristian itu.

Tentera Salib yang menjadi tuan di Masjid Umar, di mana orang-orang Islam cuba mempertahankan diri selama beberapa lama menambahkan lagi adegan-adegan yang mengerikan yang menodai penaklukan Titus. Tentera infanteri dan kaveleri lari tunggang langgang di antara para buruan. Di tengah huru-hara yang mengerikan itu yang terdengar hanya rintihan dan jeritan kematian. Orang-orang yang menang itu memijak-mijak tumpukan mayat ketika mereka lari mengejar orang yang cuba menyelamatkan diri dengan sia-sia.

Raymond d’Agiles, yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri mengatakan: “Di bawah serambi masjid yang melengkung itu, genangan darah dalamnya mencecah lutut dan mencapai tali kekang kuda.”

Aksi pembantaian hanya berhenti beberapa saat saja, yakni ketika pasukan Salib itu berkumpul untuk menyatakan kesyukuran di atas kemenangan mereka. Tapi sebaik saja upacara itu selesai, pembantaian diteruskan dengan lebih ganas lagi.

Seterusnya Michaud berkata: “Semua yang tertangkap yang disisakan dari pembantaian pertama, semua yang telah diselamatkan untuk mendapatkan upeti, dibantai dengan kejam. Orang-orang Islam itu dipaksa terjun dari puncak menara dan bumbung-bumbung rumah, mereka dibakar hidup -hidup , diheret dari tempat persembunyian bawah tanah, diheret ke hadapan umum dan dikurbankan di tiang gantungan.

Air mata wanita, tangisan kanak-kanak, begitu juga pemandangan dari tempat Yesus Kristus memberikan ampun kepada para algojonya, sama sekali tidak dapat meredhakan nafsu membunuh orang-orang yang menang itu. Penyembelihan itu berlangsung selama seminggu. Beberapa orang yang berhasil melarikan diri, dimusnahkan atau dikurangkan bilangannya dengan perhambaan atau kerja paksa yang mengerikan.”

Gustav Le Bon telah mensifatkan penyembelihan kaum Salib Kristian sebagaimana kata-katanya: “Kaum Salib kita yang “bertakwa” itu tidak memadai dengan melakukan berbagai bentuk kezaliman, kerosakan dan penganiayaan, mereka kemudian mengadakan suatu mesyuarat yang memutuskan supaya dibunuh saja semua penduduk Baitul Maqdis yang terdiri dari kaum Muslimin dan bangsa Yahudi serta orang-orang Kristian yang tidak memberikan pertolongan kepada mereka yang jumlah mencapai 60,000 orang. Orang-orang itu telah dibunuh semua dalam masa 8 hari saja termasuk perempuan, kanak-kanak dan orang tua, tidak seorang pun yang terkecuali.

Ahli sejarah Kristian yang lain, Mill, mengatakan: “Ketika itu diputuskan bahawa rasa kasihan tidak boleh diperlihatkan terhadap kaum Muslimin. Orang-orang yang kalah itu diheret ke tempat-tempat umum dan dibunuh. Semua kaum wanita yang sedang menyusu, anak-anak gadis dan anak-anak lelaki dibantai dengan kejam. Tanah padang, jalan-jalan, bahkan tempat-tempat yang tidak berpenghuni di Jerusssalem ditaburi oleh mayat-mayat wanita dan lelaki, dan tubuh kanak-kanak yang koyak-koyak. Tidak ada hati yang lebur dalam keharuan atau yang tergerak untuk berbuat kebajikan melihat peristiwa mengerikan itu.”

Kemunculan Panglima Shalahuddin

Jatuhnya kota Suci Baitul Maqdis ke tangan kaum Salib telah mengejutkan para pemimpin Islam. Mereka tidak menyangka kota Suci yang telah dikuasainya selama lebih 500 tahun itu boleh terlepas dalam sekelip mata. Mereka sedar akan kesilapan mereka kerana berpecah belah. Para ulama telah berbincang dengan para Sultan, Emir dan Khalifah agar mengambil berat dalam perkara ini.

Usaha mereka berhasil. Setiap penguasa negara Islam itu bersedia bergabung tenaga untuk merampas balik kota Suci tersebut. Di antara pemimpin yang paling gigih dalam usaha menghalau tentera Salib itu ialah Imamuddin Zanki dan diteruskan oleh anaknya Emir Nuruddin Zanki dengan dibantu oleh panglima Asasuddin Syirkuh.

Setelah hampir empat puluh tahun kaum Salib menduduki Baitul Maqdis, Shalahuddin Al-Ayyubi baru lahir ke dunia, yakni pada tahun 1138 Masihi. Keluarga Shalahuddin taat beragama dan berjiwa pahlawan. Ayahnya, Najmuddin Ayyub adalah seorang yang termasyhur dan beliau pulalah yang memberikan pendidikan awal kepada Shalahuddin.

Selain itu, Shalahuddin juga mendapat pendidikan dari bapa saudaranya Asasuddin Syirkuh seorang negarawan dan panglima perang Syria yang telah berhasil mengalahkan tentera Salib sama ada di Syria ataupun di Mesir. Dalam setiap peperangan yang dipimpin oleh panglima Asasuddin, Shalahuddin sentiasa ikut sebagai tentera pejuang sekalipun usianya masih muda.

Pada tahun 549 H/1154 M, panglima Asasuddin Syirkuh memimpin tenteranya merebut dan menguasai Damsyik. Shalahuddin yang ketika itu baru berusia 16 tahun turut serta sebagai pejuang. Pada tahun 558 H/1163 Masihi, panglima Asasuddin membawa Shalahuddin Al-Ayyubi yang ketika itu berusia 25 tahun untuk menundukkan Daulat Fatimiyah di Mesir yang diperintah oleh Aliran Syiah Ismailiyah yang semakin lemah.Usahanya berhasil. Khalifah Daulat Fatimiyah terakhir Adhid Lidinillah dipaksa oleh Asasuddin Syirkuh untuk menandatangani perjanjian. Akan tetapi, Wazir besar Shawar merasa cemburu melihat Syirkuh semakin popular di kalangan istana dan rakyat.

Dengan senyap-senyap dia pergi ke Baitul Maqdis dan meminta bantuan dari pasukan Salib untuk menghalau Syirkuh daripada berkuasa di Mesir. Pasukan Salib yang dipimpin oleh King Almeric dari Jerussalem menerima baik jemputan itu. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Asasuddin dengan King Almeric yang berakhir dengan kekalahan Asasuddin. Setelah menerima syarat-syarat damai dari kaum Salib, panglima Asasuddin dan Shalahuddin dibenarkan balik ke Damsyik.

Kerjasama Wazir besar Shawar dengan orang kafir itu telah menimbulkan kemarahan Emir Nuruddin Zanki dan para pemimpin Islam lainnya termasuk Baghdad. Lalu dipersiapkannya tentera yang besar yang tetap dipimpin oleh panglima Syirkuh dan Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menghukum si pengkhianat Shawar. King Almeric terburu-buru menyiapkan pasukannya untuk melindungi Wazir Shawar setelah mendengar kemaraan pasukan Islam. Akan tetapi Panglima Syirkuh kali ini bertindak lebih pantas dan berhasil membinasakan pasukan King Almeric dan menghalaunya dari bumi Mesir dengan aib sekali.

Panglima Shirkuh dan Shalahuddin terus mara ke ibu kota Kaherah dan mendapat tentangan dari pasukan Wazir Shawar. Akan tetapi pasukan Shawar hanya dapat bertahan sebentar saja, dia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Khalifah Al-Adhid Lidinillah terpaksa menerima dan menyambut kedatangan panglima Syirkuh buat kali kedua.
Suatu hari panglima Shalahuddin Al-Ayyubi berziarah ke kuburan seorang wali Allah di Mesir, ternyata Wazir Besar Shawar dijumpai bersembunyi di situ. Shalahuddin segera menangkap Shawar, dibawa ke istana dan kemudian dihukum bunuh.

Khalifah Al-Adhid melantik panglima Asasuddin Syirkuh menjadi Wazir Besar menggantikan Shawar. Wazir Baru itu segera melakukan perbaikan dan pembersihan pada setiap institusi kerajaan secara berperingkat. Sementara anak saudaranya, panglima Shalahuddin Al-Ayyubi diperintahkan membawa pasukannya mengadakan pembersihan di kota-kota sepanjang sungai Nil sehingga Assuan di sebelah utara dan bandar-bandar lain termasuk bandar perdagangan Iskandariah.

Menutup Daulat Fatimiyah

Wazir Besar Syirkuh tidak lama memegang jawatannya, kerana beliau wafat pada tahun 565 H/1169 M. Khalifah Al-Adhid melantik panglima Shalahuddin Al-Ayyubi menjadi Wazir Besar menggantikan Syirkuh dengan mendapat persetujuan pembesar-pembesar Kurdi dan Turki. Walaupun berkhidmat di bawah Khalifah Daulat Fatimiah, Shalahuddin tetap menganggap Emir Nuruddin Zanki sebagai ketuanya.

Nuruddin Zanki berulang kali mendesak Shahalahuddin agar menangkap Khalifah Al-Adhid dan mengakhiri kekuasaan Daulat Fatimiah untuk seterusnya diserahkan semula kepada Daulat Abbasiah di Baghdad. Akan tetapi Shalahuddin tidak mahu bertindak terburu-buru, beliau memperhatikan keadaan sekelilingnya sehingga musuh-musuh dalam selimut betul-betul lumpuh.

Barulah pada tahun 567 H/1171 Masihi, Shalahuddin mengumumkan penutupan Daulat Fatimiah dan kekuasaan diserahkan semula kepada Daulat Abbasiah. Maka doa untuk Khalifah Al-Adhid pada khutbah Jumaat hari itu telah ditukar kepada doa untuk Khalifah Al-Mustadhi dari Daulat Abbasiah.

Ketika pengumuman peralihan kuasa itu dibuat, Khalifah Al-Adhid sedang sakit kuat, sehingga beliau tidak mengetahui perubahan besar yang berlaku di dalam negerinya dan tidak mendengar bahawa Khatib Jumaat sudah tidak mendoakan dirinya lagi. Sehari selepas pengumuman itu, Khalifah Al-Adhid wafat dan dikebumikan sebagaimana kedudukan sebelumnya, yakni sebagai Khalifah.

Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulat Fatimyah yang dikuasai oleh kaum Syi’ah selama 270 tahun. Keadaan ini sememangnya telah lama ditunggu-tunggu oleh golongan Ahlussunnah di seluruh negara Islam lebih-lebih lagi di Mesir sendiri. Apalagi setelah Wazir Besar Shawar berkomplot dengan kaum Salib musuh Islam. Pengembalian kekuasaan kepada golongan Sunni itu telah disambut meriah di seluruh wilayah-wilayah Islam, lebih-lebih di Baghdad dan Syiria atas restu Khalifah Al-Mustadhi dan Emir Nuruddin Zanki.

Mereka sangat berterima kasih kepada Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi yang dengan kebijaksanaan dan kepintarannya telah menukar suasana itu secara aman dan damai. Serentak dengan itu pula, Wazir Besar Shalahuddin Al-Ayyubi telah merasmikan Universiti Al-Azhar yang selama ini dikenal sebagai pusat pengajian Syiah kepada pusat pengajian Ahlussunnah Wal Jamaah. Semoga Allah membalas jasa-jasa Shalahuddin.

Menyatupadukan Kuasa-Kuasa Islam

Walaupun sangat pintar dan bijak mengatur strategi dan berani di medan tempur, Shalahuddin berhati lembut, tidak mahu menipu atasan demi kekuasaan dunia. Beliau tetap setia pada atasannya, tidak mahu merampas kuasa untuk kepentingan peribadi. Kerana apa yang dikerjakannya selama ini hanyalah mencari peluang untuk menghalau tentera Salib dari bumi Jerussalem. Untuk tujuan ini, beliau berusaha menyatu padukan wilayah-wilyah Islam terlebih dahulu, kemudian menghapuskan para pengkhianat agama dan negara agar peristiwa Wazir Besar Shawar tidak berulang lagi.

Di Mesir, beliau telah berkuasa penuh, tapi masih tetap taat setia pada kepimpinan Nuruddin Zanki dan Khalifah di Baghdad. Tahun 1173 M, Emir Nuruddin Zanki wafat dan digantikan oleh puteranya Ismail yang ketika itu baru berusia 11 tahun dan bergelar Mulk al Shalih. Para ulama dan pembesar menginginkan agar Emir Salahudin mengambil alih kuasa kerana tidak suka kepada Mulk al-Shalih keran selalu cuai melaksanakan tanggungjawabnya dan suka bersenang-senang. Akan tetapi Shalahuddin tetap taat setia dan mendoakan Mulk al Saleh dalam setiap khutbah Jumaat, bahkan mengabadikannya pada mata wang syiling.

Apabila Damsyik terdedah pada serangan kaum Salib, barulah Shalahudin menggerakkan pasukannya ke Syiria untuk mempertahankan kota itu daripada jatuh. Tidak lama kemudian Ismail wafat, maka Shalahuddin menyatukan Syria dengan Mesir dan menubuhkan Emirat Al-Ayyubiyah dengan beliau sendiri sebagai Emirnya yang pertama. Tiada berapa lama kemudian, Sultan Shalahuddin dapat menggabungkan negeri-negeri An-Nubah, Sudan, Yaman dan Hijaz ke dalam kekuasaannya yang besar. Negara di Afirka yang telah diduduki oleh askar Salib dari Normandy, juga telah dapat direbutnya dalam masa yang singkat. Dengan ini kekuasaan Shalahuddin telah cukup besar dan kekuatan tenteranya cukup ramai untuk mengusir tentera kafir Kristian yang menduduki Baitul Maqdis selama berpuluh tahun.

Sifatnya yang lemah lembut, zuhud, wara’ dan sederhana membuat kaum Muslimin di bawah kekuasaannya sangat mencintainya. Demikian juga para ulama sentiasa mendoakannya agar cita-cita sucinya untuk merampas semula Tanah Suci berhasil dengan segera.

Perjuangan Merebut Baitul Maqdis

Setelah merasa kuat, Sultan Shalahuddin menumpukan perhatiannya untuk memusnahkan tentera Salib yang menduduki Baitul Maqdis dan merebut kota Suci itu semula. Banyak rintangan dan problem yang dialami oleh Sultan sebelum maksudnya tercapai. Siasah yang mula-mula dijalankannya adalah mengajak tentera Salib untuk berdamai. Pada lahirnya, kaum Salib memandang bahawa Shalahuddin telah menyerah kalah, lalu mereka menerima perdamaian ini dengan sombong. Sultan sudah menjangka bahawa orang-orang kafir Kristian itu akan mengkhianati perjanjian, maka ini akan menjadi alasan bagi beliau untuk melancarkan serangan. Untuk ini, beliau telah membuat persiapan secukupnya.

Ternyata memang betul, baru sebentar perjanjian ditandatangani, kaum Salib telah mengadakan pelanggaran. Maka Sultan Shalahuddin, segera bergerak melancarkan serangan, tapi kali ini masih gagal dan beliau sendiri hampir kena tawan. Beliau kembali ke markasnya dan menyusun kekuatan yang lebih besar.

Suatu kejadian yang mengejutkan Sultan dalam suasana perdamaian adalah tindakan seorang panglima Salib Count Rainald de Chatillon yang bergerak dengan pasukannya untuk menyerang kota Suci Makkah dan Madinah. Akan tetapi pasukan ini hancur binasa digempur mujahid Islam di laut Merah dan Count Rainald dan sisa pasukannya balik ke Jerussalem. Dalam perjalanan, mereka telah berjumpa dengan satu iring-iringan kafilah kaum Muslimin yang didalamnya terdapat seorang saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Tanpa berfikir panjang, Count dan kuncu-kuncunya menyerang kafilah tersebut dan menawan mereka termasuk saudara perempuan kepada Shalahuddin.

Dengan angkuh Count berkata: “Apakah Muhammad, Nabi mereka itu mampu datang untuk menyelamatkan mereka?”

Seorang anggota kafilah yang dapat meloloskan diri terus lari dan melapor kepada Sultan apa yang telah terjadi. Sultan sangat marah terhadap pencabulan gencatan senjata itu dan mengirim perutusan ke Jerussalem agar semua tawanan dibebaskan. Tapi mereka tidak memberikan jawapan. Ekoran kejadian ini, Sultan keluar membawa pasukannya untuk menghukum kaum Salib yang sering mengkhianati janji itu. Terjadilah pertempuran yang sangat besar di gunung Hittin sehingga dikenal dengan Perang Hittin.

Dalam pertempuran ini, Shalahuddin menang besar. Pasukan musuh yang berjumlah 45,000 orang hancur binasa dan hanya tinggal beberapa ribu saja yang sebagian besarnya menjadi tawanan termasuk Count Rainald de Chatillon sendiri. Semuanya diangkut ke Damaskus. Count Rainald yang telah menawan saudara perempuan Sultan dan mempersendakan Nabi Muhammad itu digiring ke hadapan beliau.

“Nah, bagaimana jadinya yang telah nampak oleh engkau sekarang? Apakah saya tidak cukup menjadi pengganti Nabi Besar Muhammad untuk melakukan pembalasan terhadap berbagai penghinaan engkau itu?” tanya Sultan Shalahuddin.

Shalahuddin mengajak Count agar masuk Islam, tapi dia tidak mahu. Maka dia pun dihukum bunuh kerana telah menghina Nabi Muhammad.

Kembali Ke Pangkuan Kaum Muslimin

Setelah melalui berbagai peperangan dan menaklukkan berbagai benteng dan kota, sampailah Sultan Shalahuddin pada matlamat utamanya iaitu merebut Baitul Maqdis. Kini beliau mengepung Jerussalem selama empat puluh hari membuat penduduk di dalam kota itu tidak dapat berbuat apa-apa dan kekurangan keperluan asas. Waktu itu Jerussalem dipenuhi dengan kaum pelarian dan orang-orang yang selamat dalam perang Hittin. Tentera pertahanannya sendiri tidak kurang dari 60,000 orang.

Pada mulanya Sultan menyerukan seruan agar kota Suci itu diserahkan secara damai. Beliau tidak ingin bertindak seperti yang dilakukan oleh Godfrey dan orang-orangnya pada tahun 1099 untuk membalas dendam. Akan tetapi pihak Kristian telah menolak tawaran baik dari Sultan, bahkan mereka mengangkat Komandan Perang untuk mempertahankan kota itu. Kerana mereka menolak seruan, Sultan Shalahuddin pun bersumpah akan membunuh semua orang Kristian di dalam kota itu sebagai membalas dendam ke atas peristiwa 90 tahun yang lalu. Mulailah pasukan kaum Muslimin melancarkan serangan ke atas kota itu dengan anak panah dan manjanik.

Kaum Salib membalas serangan itu dari dalam benteng. Setelah berlangsung serangan selama empat belas hari, kaum Salib melihat bahawa pintu benteng hampir musnah oleh serangan kaum Muslimin. Para pemimpin kaum Salib mulai merasa takut melihat kegigihan dan kekuatan pasukan Muslim yang hanya tinggal menunggu masa untuk melanggar masuk. Beberapa pemimpin Kristian telah keluar menemui Sultan Shalahuddin menyatakan hasratnya untuk menyerahkan kota Suci secara aman dan minta agar nyawa mereka diselamatkan.

Akan tetapi Sultan menolak sambil berkata: “Aku tidak akan menaklukkan kota ini keculai dengan kekerasan sebagaimana kamu dahulu menaklukinya dengan kekerasan. Aku tidak akan membiarkan seorang Kristian pun melainkan akan kubunuh sebagaimana engkau membunuh semua kaum Muslimin di dalam kota ini dahulu.”
Setelah usaha diplomatik mereka tidak berhasil, Datuk Bandar Jerussalem sendiri datang menghadap Sultan dengan merendah diri dan minta dikasihani, memujuk dan merayu dengan segala cara. Sultan Shalahuddin tidak menjawabnya.

Akhirnya ketua Kristian itu berkata: “Jika tuan tidak mahu berdamai dengan kami, kami akan balik dan membunuh semua tahanan (terdiri dari kaum Muslimin seramai 4000 orang) yang ada pada kami. Kami juga akan membunuh anak cucu kami dan perempuan-perempuan kami. Setelah itu kami akan binasakan rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang indah-indah, semua harta dan perhiasan yang ada pada kami akan dibakar. Kami juga akan memusnahkan Kubah Shahra’, kami akan hancurkan semua yang ada sehingga tidak ada apa-apa yang boleh dimanfaatkan lagi. Selepas itu, kami akan keluar untuk berperang mati-matian, kerana sudah tidak ada apa-apa lagi yang kami harapkan selepas ini. Tidak seorang pun boleh membunuh kami sehingga sebilangan orang-orang tuan terbunuh terlebih dahulu. Nah, jika demikian keadaannya, kebaikan apalagi yang tuan boleh harapkan?”

Setelah mendengar kata-kata nekat dan ugutan itu, Sultan Shalahuddin menjadi lembut dan kasihan dan bersedia untuk memberikan keamanan. Beliau meminta nasihat para ulama yang mendampinginya mengenai sumpah berat yang telah diucapkannya. Para ulama mengatakan bahawa beliau mesti menebus sumpahnya dengan membayar Kifarat sebagaimana yang telah disyariatkan.

Maka berlangsunglah penyerahan kota secara aman dengan syarat setiap penduduk mesti membayar wang tebusan. Bagi lelaki wajib membayar sepuluh dinar, perempuan lima dinar dan kanak-kanak dua dinar sahaja. Barangsiapa yang tidak mampu membayar tebusan, akan menjadi tawanan kaum Muslimin dan berkedudukan sebagai hamba. Semua rumah, senjata dan alat-alat peperangan lainnya mesti ditinggalkan untuk kaum Muslimin. Mereka boleh pergi ke mana-mana tempat yang aman untuk mereka. Mereka diberi tempo selama empat puluh hari untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan Barangsiapa yang tidak sanggup menunaikannya sehinnga lewat dari waktu itu, ia akan menjadi tawanan. Ternyata ada 16,000 orang Kristian yang tidak sanggup membayar wang tebusan. Semua mereka ditahan sebagai hamba.

Maka pada hari Jumaat 27 Rajab 583 Hijrah, Sultan Shalahuddin bersama kaum Muslimin memasuki Baitul Maqdis. Mereka melaungkan “Allahu Akbar” dan bersyukur kehadirat Allah s.w.t. Air mata kegembiraan menitis di setiap pipi kaum Muslimin sebaik saja memasuki kota itu. Para ulama dan solehin datang mengucapkan tahniah kepada Sultan Shalahuddin di atas perjuangannya yang telah berhasil. Apalagi tarikh tersebut bersamaan dengan tarikh Isra’ Nabi S.A.W dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Pada hari Jumaat tersebut, kaum Muslimin tidak sempat melaksankan solat Jumaat di Masjidil Aqsa kerana sempitnya waktu. Mereka terpaksa membersihkan Masjid Suci itu dari babi, kayu-kayu salib, gambar-gambar rahib dan patung-patung yang dipertuhan oleh kaum Kristian. Barulah pada Jumaat berikutnya mereka melaksanakan solat Jumaat di Masjidil Aqsa buat pertama kalinya dalam masa 92 tahun. Kadi Muhyiddin bin Muhammad bin Ali bin Zaki telah bertindak selaku khatib atas izin Sultan Shalahuddin.

Kejatuhan Jerussalem ke tangan kaum Muslimin telah membuat Eropah marah. Mereka melancarkan kutipan yang disebut “Saladin tithe”, yakni derma wajib untuk melawan Shalahuddin yang hasilnya digunakan untuk membiayai perang Salib. Dengan angkatan perang yang besar, beberapa orang raja Eropah berangkat untuk merebut kota Suci itu semula. Maka terjadilah perang Salib ketiga yang sangat sengit. Namun demikian, Shalahuddin masih dapat mempertahankan Jerussalem sehingga perang tamat. Setahun selepas perang Salib ke tiga itu, Sultan Shalahuddin pulang kerahmatullah. Semoga Allah mencucuri rahmat ke atasnya, amin.

Peribadi Seorang Panglima

Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi terbilang sebagai pahlawan dan Panglima Islam yang besar. Pada beliau terkumpul sifat-sifat berani, wara’, zuhud, khusyu’, pemurah, pemaaf, tegas dan lain-lain sifat terpuji. Para ulama dan penulis sejarah telah memberikan kepujian yang melangit. Sifat pemurah dan pemaafnya diakui oleh lawan mahupun kawan.
Seorang penulis sejarah mengatakan: “Hari kematiannya merupakan kehilangan besar bagi agama Islam dan kaum Muslimin, kerana mereka tidak pernah menderita semenjak kehilangan keempat-empat Khalifah yang pertama (Khulafaurrasyidin). Istana, kerajaan dan dunia diliputi oleh wajah-wajah yang tertunduk, seluruh kota terbenam dalam dukacita, dan rakyat mengikuti keranda jenazahnya dengan tangisan dan ratapan.”

Sultan Shalahuddin adalah seorang pahlawan yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras siang dan malam untuk Islam. Hidup nya sangat sederhana. Minumnya hanya air kosong, makanannya sederhana, pakaiannya dari jenis yang kasar. Beliau sentiasa menjaga waktu-waktu solat dan mengerjakannya secara berjamaah. Dikatakan bahawa beliau sepanjang hayatnya tidak pernah terlepas dari mengerjakan solat jamaah, bahkan ketika sakit yang membawa pada ajalnya, beliau masih tetap mengerjakan solat berjamaah. Sebaik saja imam masuk berdiri di tempatnya, beliau sudah siap di dalam saf. Beliau suka mendengarkan bacaan Al-Quran, Hadis dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang Hadis, beliau memang mendengarkannya secara teratur, sehingga beliau boleh mengenal jenis-jenis hadis. Hatinya sangat lembut dan pemurah, sering menangis apabila mendengarkan hadis.

Di dalam buku The Historians’ History of the World disebutkan sifat-sifat Shalahuddin sebagai berikut: “Keberanian dan keberhasilan Sultan Shalahuddin itu terjelma seluruhnya pada perkembangan keperibadian yang luar biasa. Sama seperti halnya dengan Emir Imamuddin Zanki dan Emir Nuruddin Zanki, beliau juga merupakan seorang Muslim yang taat. Sudah menjadi kebiasaan bagi Sultan Shalahuddin membacakan Kitab Suci Al-Quran kepada pasukannya menjelang pertempuran berlangsung. Beliau juga sangat disiplin mengqada setiap puasanya yang tertinggal dan tidak pernah lalai mengerjakan solat lima waktu sampai pada akhir hayatnya. Minumannya tidak lain dari air kosong saja, memakai pakaian yang terbuat dari bulu yang kasar, dan mengizinkan dirinya untuk dipanggil ke depan pengadilan. Beliau mengajar sendiri anak-anaknya mengenai agama Islam.......” Seluruh kaum Muslimin yang menyaksikan kewafatannya menitiskan air mata apabila Sultan yang mengepalai negara yang terbentang luas dari Asia hingga ke Afrika itu hanya meninggalkan warisan 1 dinar dan 36 dirham. Tidak meninggalkan emas, tidak punya tanah atau kebun. Padahal berkhidmat pada kerajaan berpuluh tahun dan memegang jawatan sebagai panglima perang dan Menteri Besar sebelum menubuhkan Emirat Ayyubiyah.

Kain yang dibuat kafannya adalah betul-betul dari warisan beliau yang jelas-jelas halal dan sangat sederhana. Anak beliau yang bernama Fadhal telah masuk ke liang lahad meletakkan jenazah ayahnya. Dikatakan bahawa beliau dikebumikan bersama-sama pedangnya yang dipergunakan dalam setiap peperangan agar dapat menjadi saksi dan dijadikannya tongkat kelak pada hari kiamat. Rahimahullahu anh.

Ketika buku ini ditulis, Baitul Maqdis sedang berada di dalam kekuasaan Zionis Yahudi dengan negaranya Israil yang dipaksakan. Jika sekiranya ada kepala negara yang bersifat seperti Sultan Shalahuddin di Timur Tengah sana, insya Allah Baitul Maqdis dapat direbut semula oleh kaum Muslimin. (sumber: darulnuman.com)

Senin, 26 Januari 2009

Permusuhan Yahudi Terhadap Umat Islam

Oleh : KH Yakhsyallah Mansur,MA

Sesunguhnya akan engkau dapati manusia yang sangat memusuhi orang-orang yang beriman adalah Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah. Dan sesunguhnya akan engkau dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang ber kata, Sesungguhnya kami orang Nasrani “, yang demikian itu disebabkan karena antara mereka (Orang-orang Nasrani terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesunguhnya mereka tidak menyombongkan diri )ِAl Maidah, 82)


Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada kaum muslimin tentang musuh-musuh besar mereka yang akan semakin menyengsarakan dan menghancurkan umat Islam, Yaitu orang Yahudi dan musryikin.

Pada ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman : (“… Maka Yahudi menyukai apa yang menyusahkan kamu, Telah nyata kebencian dari mulut mereka , dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat kami, jika kamu memahaminya”) (QS.Ali Imran 118).

“Tiadalah sekali-kali orang Yahudi berteman dengan orang Islam di tempat yang sunyi kecuali pasti ingin membunuhnya. (HR. Ibnu Bardawiyah).

Hal inilah yang kita saksikan dengan mata kepala kita akhir–akhir ini. Bagaimana dengan sadisnya setiap hari orang-orang Yahudi membantai orang Palestina. Mereka kerahkan jutaan dolar untuk mengusir rakya Palestina dari tanah kelahirannya. Bangsa Yahudi sebenarnya bukan hanya musuh bangsa Palestina , tetapi musuh semua umat manusia bahkan malaikat dan tuhan pun mereka jadikan musuh.

Allah Berfirman :“Barangsiapa menjadi musuh Allah , malaikat-malaikat Nya, rasul-rasul Nya, Jibril dan Mikail , maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang –orang kafir”.(QS. Al baqarah, 98)

Yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang Yahudi.

Dengan sombongnya, tokoh Yahudi, Fanhas, berkata bahwa Allah itu fakir (miskin) sedang mereka itu kaya. Sebagaimana digambarkan Allah dalam AL qur an

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang meengatakan “Sesungguhnya Allah mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasa nyang benar, dan kami mengatakan kepada mereka “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”.

Perkataan Fanhas didengar oleh Abu Bakar , kemudian dia marah dan dipukulah muka Fanhas tidak terima dan mengadukan hal itu kepada Rasulallah SAW. Dia mungkir bahw a dia telah mengucapkan perkataan di atas dan mendustakan Abu Bakar. Maka Allah menurunkan ayat di atas untu membela Abu Bakar dan membeberkan sifat-sifat Yahudi yang keji tersebut.

Kekejaman orang Yahudi ini, terkadang juga mereka lakukan terhadap bangsanya sendiri demi cita-cita yang mereka inginkan . Imanuel Robinovich, pendeta tertinggi yahudi dalam sidang darurat pendeta Yahudi Eropa pada tanggal 12 Januari 1952) bertkata : Untuk mencapai tujuan akhir, bisa saja kita memakai cara yang menyidihkan, seperti pernah kita lakukan terhadap sebagian bangsa kita sendiri, dengan kata lain kita akan mnumbalkan sebagian putra bangsa kita sendiri pada suatu peristiwa yang akan kita atur dari belakang layar”

Oleh karena itu pula pendapat sebagian analis bahwa peristiwa penghancuran gedung WORLD CENTRE, 11 September tahun lalu di dalangi oleh orang YAHUDI dengan tujuan menghancurkan kekuatan Islam di Afganistan dan tempat lain yang mereka anggap menghalangi cita-citanya.

Untuk menghadapi permusuhan Yahudi, umat Islam sebagai satu-satunya musuh mereka yang belum terkalahkan dan INSYA ALLAH TIDAK AKAN TERKALAHKAN harus selalu waspada.

Umat Islam akan mampu menghadapi dan bahkan akan mengalahkan orang Yahudi apabila mereka mau konsekuen kembali kepada Al qur an dan As sunnah. Di dalam Al Qur an banyak ayat yang memberi petunjuk kepada kita kunci-kunci kemenangan menghadapi musuh, Allah berfirman :

Ayat ini memberi petunjuk bahwa untuk bisa mengalahkan musuh, kita harus bersatu dan saling sayang- menyayangi.

Hai orang-orang yang beriman , apabila kamu memerangi pasukan musuh, maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung, dan taatlah kepada Allah dan rasul Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar kehilangan kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (aqsaworkinggroup)

Anjuran Ziarah ke Masjid Al-Aqsha

Oleh : Abu Syuhada Al-Aqsha

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak seyogyanya untuk bersusah payah melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga masjid : Masjid Al-Haram, Masjidku (Masjid Nabawi) ini, dan Masjid Al-Aqsha (HR Bukhari dan Muslim).

“Shalat di Masjid Al-Haram sama dengan 100.000 shalat di masjid lainya, dan shalat di masjidku (Masjid Nabawi) sama dengan 1.000 shalat di masjid lainya, dan shalat di Masjid Al Aqsha sama dengan 500 shalat di masjid lainya”. (HR Ath-Thabrani).

Berdasarkan hadits-hadits tersebut, umat Islam dianjurkan untuk berziarah menuju tiga masjid, yakni Masjid Al-Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al-Aqsha di Palestina.

Dari ketiga masjid itu, Masjidil Aqshalah yang nasibnya masih memprihatinkan sampai saat ini, karena wilayahnya masih dalam ancaman Yahudi Israel. Bahkan akhir-akhir ini Israel dengan sengaja menggali terowongan bawah tanah di sekitar masjid tersebut.

Padahal Masjid Al-Aqsha mempunyai arti sangat penting di dalam jiwa kaum muslimin sedunia. Karena dari situlah Rasulullah SAW mengadakan perjalanan isra dari Masjid Al-Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsha di Palestina sejauh lebih kurang 1.500 km. Lalu dilanjutkan mi’raj ke langit shidratul muntaha, untuk menerima perintah menunaikan Rukun Islam berupa shalat fardhu lima waktu sehari semalam.

Firman Allah SWT, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra [17] : 1).

Karena kesucian dan kedudukannya inilah, orang-orang Islam melihat Masjdil Aqsha adalah tempat ziarah yang mulia, rumah yang penuh berkah, dan memakmurkan ibadah di dalamnya. Hanya orang-orang beriman sajalah yang berhak memakmurkan masjid Allah, termasuk memakmurkan Masjis Al-Aqsha.

Firman-Nya, ”Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah [9] : 18).

Untuk dapat kembali berziarah dan beribadah di Masjid Al-Aqsha di negeri para anbiya itu, segenap kaum muslimin sedunia wajib bersatu-padu ‘kal jasadil wahid’ tolong-menolong memperhatikannya. Kalau tidak, akan timbul fitnah dan kerusakan oleh tangan-tangan yang bukan haknya.

Firman Allah, “dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Q.S. Al-Maidah [5] : 2).

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS Al-Anfal : 73)

Free Palestine ! Save Aqsa !

"Tunggulah wahai saudaraku.. Pertolongan Allah akan segera datang..."

Children of Gaza

Kunjungi disini!!!